Minggu, 24 Maret 2019

HSG


HSG
histerosalpingografi

Sore ini, hari Sabtu, tanggal 23 Maret 2019. Jam 3 sore adzan Ashar berkumandang. Saya bergegas sholat lalu ganti baju. Jam setengah 4 kita berangkat. Langit cukup mendung tapi belum turun hujan. Jam 4, saya dapat pesan teks yang menginformasikan bahwa keadaan lalu lintas sudah berjalan normal kembali setelah siang tadi ada kunjungan bapak presiden ke lapangan Kridosono.

Jam setengah 5 kami tiba di lab Cito. Saya diminta melakukan pendaftaran dengan mengisi surat pernyataan, menyerahkan KTP, diambil gambar lewat kamera serta membayar biaya sebesar 1 juta rupiah. Setelah proses pendaftaran beres, saya diberi tanda bukti untuk pengambilan hasil foto rontgen HSG lalu saya diminta menunggu karena dokternya belum datang.

Jam 5 lewat, saya diminta masuk ke ruang rontgen dan ganti baju. Semua baju harus dilepas lalu ganti dengan baju yang ada talinya di bagian punggung. Saya request apakah saya tetap boleh pakai kerudung? Jawabannya, diperbolehkan, Alhamdulillah. Selesai melepas pakaian dan ganti baju, saya keluar dari kamar mandi, dan ternyata dokternya sudah datang. Rasa cemas hilang berganti dengan rasa takut. Aneka alat medis terpampang di depan mata saya, membuat saya ngilu.

Petugas yang tadi meminta saya ganti baju lantas memperkenalkan diri, namanya Eva, beliau bertugas sebagai asisten dokter, lalu dokter yang akan melakukan tindakan HSG namanya dokter Budi.


Sebelum tindakan, saya sempat ditanya:
1)     Sudah berapa lama menikah?
2)     Sudah pernah melakukan HSG sebelumnya?
3)     Sudah pernah keguguran?
4)     Sudah melakukan hubungan badan dari selesai haid sampai hari ini?

Setelah saya jawab, dokter lalu meminta saya berbaring sambil menjelaskan beberapa hal, yaitu:
1)     Tes HSG umum dilakukan, prosesnya hampir mirip seperti ketika pemasangan alat kontrasepsi IUD
2)     Setiap hari selalu ada pasien tes HSG
3)     Rasanya akan sedikit sakit, kurang nyaman, mules

Ketika asisten mengatur letak saya berbaring, tak terkira rasa malunya. This is my first time doing HSG. Dan sungguh saya takut, tangan saya dingin, pandangan saya tak tentu arah. Proses awalnya, dokter mengusapkan cairan antiseptik yang lama-kelamaan saya rasakan perih. Begitu kateter masuk, saya menjerit kesakitan sambil mencengkeram lengan Mba Eva. Proses pun terhenti karena saya dinilai belum siap. Dengan suara yang lembut, dokter memberikan saya opsi, tetap dilanjutkan atau dihentikan, karena ada juga pasien yang akhirnya dibatalkan karena terjadi masalah.

Cukup lama saya minta waktu untuk menenangkan diri, berusaha mencerna penjelasan dokter yang mengatakan bahwa umumnya sekali coba langsung berhasil masuk jika pasien tidak kontraksi.

Saya putuskan untuk lanjut. Sungguh luar biasa sakitnya. Meskipun yang keluar dari mulut saya adalah kalimat istighfar, namu saya ucapkan sambil teriak-teriak.

Setelah selang berhasil terpasang, dokter mencabut alat yang entah apa namanya. Kembali saya diminta mengatur posisi berbaring lalu disemprotkan cairan, lalu difoto, lalu diminta miring ke kiri, lalu disemprotkan cairan, lalu difoto, lalu diminta miring ke kanan, lalu disemprotkan cairan, lalu difoto, dan yang terakhir saya diminta berbaring terlentang lalu difoto.

Ketika proses ini usai, dokter menanyakan apakah saya diberi resep obat penghilang rasa sakit dan apakah saya merasakan sakit. Jika nanti terasa sakit maka saya diperbolehkan minum obat pereda sakit seperti asam mefenamat, ibuprofen, atau apa namanya saya lupa.

Dokter mempersilakan saya untuk membersihkan area genital dan memasang pembalut sebagai antisipasi bila keluar darah atau cairan kontras. Setelah selesai ganti baju, saya pun keluar. Setelah 10 menit, saya merasa sedikit rasa sakit. Tak tahan dengan rasa sakitnya, saya pun berderai air mata. Melihat saya menangis, petugas resepsionis mendatangi saya seraya memberikan obat pereda rasa sakit.

Sekitar jam 6 lewat, hasil lab keluar. Kami mampir ke sekolah sebentar untuk mengambil barang dan sekalian saya sholat. Sebelum pulang, kami mampir membeli makan malam. Kira-kira jam setengah 8 kami menepi ke warung sate. Hujan turun sangat deras. Begitu pesanan datang, here the pain comes, di sinilah mulai terasa sakit yang sesungguhnya.

Sepanjang perjalanan pulang, saya mengaduh kesakitan. Sampai di depan rumah, sambil terhuyung-huyung saya keluar dari mobil. Tak banyak yang bisa saya lakukan kecuali berbaring saja di kamar. Bahkan sekedar untuk cegukan, sendawa, dan batuk saja, sakit rasanya, apalagi untuk buang angin. Puncaknya menjelang jam 12 malam, saya sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit. Saya merengek minta diberi obat karena sama sekali saya tidak bisa tidur. Akhirnya dengan sedikit kesal, suami memberi saya obat. Meski sudah minum obat, faktanya saya masih terjaga hingga jam 2 pagi. Alhamdulillah setelah itu saya pun bisa tidur.

Hari berikutnya, saya masih minta bantuan suami saya untuk memapah jika saya ingin ke kamar mandi atau wudhu karena saya belum cukup kuat untuk berdiri tegak.

Bagaimana dengan hasil labnya? Alhamdulillah semua baik dan normal. Masih terasa ngilu bila saya melihat hasil foto rontgennya, terpampang jelas panjang selangnya. Penjelasan dari dokter Anis, jika bulan ini tidak terjadi konsepsi maka bulan depan saya diminta ketemu dokter untuk melakukan induksi lagi pada hari pertama haid.

Cerita ini saya kisahkan bukan untuk mencari empati, tapi semata-mata saya ingin berbagi pengalaman saja. Tentu ketahanan dan toleransi tubuh terhadap rasa sakit berbeda-beda pada setiap orang, saya sendiri termasuk orang yang paling rapuh dan tidak tahan banting.

Semangat bagi pasangan yang sedang promil semoga ikhtiar kita dikabulkan Allah SWT. aamiin

H – 1


H – 1

Friday
March 22nd 2019
I felt so depressed today.
This evening somebody texted me via WA.
She asked me which number she could dial to contact me. She told me about the campaign at Kridosono.

My hubby went home when the sun set.
I told him.
A moment later I was crying.
He couldn’t stop talking, warning, complaining, and blaming on me.

Oh God.
Why should I marry this man?
He’s so arrogant.

Deep down in my heart, all I want is you. You come close and hug me, you let me cry by your side, but you didn’t.

All I need is, you go shower, change your cloth, stand next to me, hold my hand, remove tears, and calm me down, but you didn’t.

I am crying all day long until my eyes are swollen.

Dislike this situation.
Can’t you be more romantic when I was down?
Don’t you grow up?

What does make me cry?
It’s going to be hurt, but I’m going to be fine, right?

JADWAL HSG


JADWAL HSG

Sore ini, hari Rabu, tanggal 20 Maret 2019, saya dan suami berniat survey lab untuk tes HSG. Tempat pertama yang kita tuju adalah lab Parahita. Kenapa milih Parahita? Karena yang paling deket. Dan karena kemarin suami juga cek sperma d Parahita.

Belum sampai meja resepsionis saja, saya udah lemes, takut banget. Setelah suami ambil nomor antrian, saya beranikan diri melangkah maju ke meja resepsionis. Ini bukan lebay ya, tapi beneran takut.

Ternyata, sebelum tes HSG, kita memang harus buat janji dulu dengan dokternya, karena jadwal dokternya tidak setiap hari ada, apalagi kalau akhir pekan. Resepsionisnya menjelaskan bahwa:
1)     Tes HSG dapat dilakukan pada hari ke 9, 10, 11, 12 (namun biasanya dokter lebih senang jika HSG dilakukan pada hari ke 10, karena rahim cenderung sudah bersih dari darah haid).
2)     Disarankan untuk tidak melakukan hubungan badan di hari selesai haid hingga menjelang tes HSG.
3)     Disarankan pula untuk merapikan pubic hair sebelum tes HSG.

Setelah banyak nanya ini itu, diputuskanlah untuk tes HSG di hari ke 10 setelah haid yang jatuh pada hari Sabtu. Setelah di telponkan ternyata tidak ada jadwal dokter di hari tersebut, sehingga ditawarkan opsi untuk:
1)     Mencari alternatif lab lain
2)     Menunggu sampai berakhirnya siklus haid bulan berikutnya

Kita pilih opsi pertama donx, soalnya kalau nungguin berakhirnya siklus haid bulan berikutnya kan kelamaan, pakai banget lagi.

Tempat kedua yang kita tuju adalah lab Cito. Menurut saya, resepsionis di sini jauh lebih ramah. Bukan saya mengatakan bahwa resepsionis di Parahita tidak ramah, bukan ya. Di Parahita, resepsionisnya ramah dan jujur, tapi di Cito, resepsionisnya jauh lebih ramah dan halus.

Di Cito kami tidak mengambil nomor antrian, karena memang tidak sedang ada antrian, jadi langsung dilayani resepsionis. Penjelasannya sama dengan lab sebelumnya yaitu HSG bisa dilakukan pada hari ke 9 atau 10. Jika hari ke 9 maka jatuh pada hari Jumat, dan jika hari ke 10 maka jatuh pada hari Sabtu. Ternyata hari Jumat dan Sabtu ada jadwal dokter, dan suami saya langsung putuskan oke, hari Sabtu jam 4 sore. Saya dimintai keterangan nama, nomor yang bisa dihubungi, dan dokter obsgyn yang memberikan surat pengantar. Di buku tertulis sudah ada 2 calon pasien tes HSG.

Berhubung saya kepo, tanyalah saya ke resepsionisnya, boleh ga kalau ditemenin suami masuk ruangan? Jawabannya, mohon maaf, berhubung ruangan radiasi sehingga kami meminimalkan orang yang tidak berkepentingan untuk masuk ke ruang tersebut.
Makin lemes lah saya. But one thing for sure, dokternya perempuan, this good news makes me comfort.

MENJELANG HSG


MENJELANG HSG

14 Maret 2019
Hari Kamis kemarin saya izin tidak masuk sekolah, alasannya karena kepala pusing. Sebetulnya hanya gejala flu biasa, tapi betul-betul pusing rasanya. Yang membuat heboh teman-teman di parallel adalah mereka menyangka bahwa saya positif hamil karena melihat saya yang terlihat lemah. Saya sendiripun berhusnudzon karena [baru] telat haid dua hari. Yang paling bikin nyesek adalah ketika sore harinya tiba-tiba ternyata saya haid. Rasanya, oh my God.
It’s okay.
This isn’t the first time.

Seperti yang sudah terprogramkan maka sore harinya suami saya menghubungi Dokter Anis. Jawaban dari Dokter Anis, beliau akan membuatkan surat rujukan untuk tes HSG. How does it feel? I’m scared. I’m not ready but I’ve to do that.
As the preparation, I’ve asked my friend who have done HSG. Sebut saja nama teman saya, Bunga. Menurut penuturan Bunga, pada saat HSG kita diminta untuk tidur terlentang, lalu petugas akan memasukkan sebuah alat ke dalam [maaf] vagina. Alat tersebut akan menyemprotkan cairan kontras ke dalam rahim. Setelah disemprot maka petugas akan mengambil gambar. Lalu kita akan diminta tidur miring ke kanan, dan cairan kontras akan disemprotkan lagi ke saluran tuba falopii kanan, dan petugas akan mengambil gambar, begitu pula ketika diminta tidur miring ke kiri. Apakah rasanya sakit? Menurut Bunga, rasa sakitnya mirip nyeri haid hari pertama. Berapa tarifnya? Mahal jenk, 750.000. Di mana labnya? Pramita lab Magelang. Noted*

14 Maret 2019
Now I’m counting down, H – 8
What am I doing now?
Nothing I can do.
Hanya berdoa semoga everything will run well.


Jumat, 15 Maret 2019

Bloody Buddy


Bloody Buddy

Hari ini Rabu, tanggal 13 Februari 2019, unfortunately I got my period last night.
Gagal lagi.

Well, ga pa pa, kita coba lagi this month.

Seperti yang sudah dijanjikan oleh dokter Anis bahwa jika ternyata saya haid, maka tindakan pertama adalah induksi. Beliau memang telah meresepkan obat yang harus saya tukar jika ternyata saya haid bulan ini.

Sore ini kami ke lab PARAHITA untuk mengambil hasil analisa sperma, dan Alhamdulillah hasilnya NORMOZOOSPERMIA.

Sepulang dari lab, kami ke apotek Sultan Agung untuk menukar resep. Obat yang diresepkan harus diminum pada hari kedua sampai hari keenam haid. Dan durasi waktu minum obatnya harus 24 jam agar kinerja obat bisa maksimal.

Esok harinya dokter Anis meminta kami membeli obat eturol (untuk suami istri) dan folavicap 400.

Farmasi:                                                                           Harga:
GP – FERTIL CLOMIFENE CITRATE                                  144.000
ETUROL (2 strip) dan FOLAVICAP 400                          156.000

Kamis, 14 Maret 2019

SEMANGAT PROMIL [LAGI]


SEMANGAT PROMIL [LAGI]

Niat hati pengen belajar [konsisten] nulis blog, tapi apa daya justru vakum dan terbengkalai bertahun-tahun.

Masih dalam suasana tahun baru dengan semangat baru dan gairah baru serta resolusi baru.

Cerita promil kali ini, kita sepakat untuk ganti dokter. Bukan karena kita ga percaya sama kemampuannya dokter Alfaina, tapi karena teman dekat kita merekomendasikan untuk konsultasi ke wali murid yang juga berprofesi sebagai dokter obsgyn. Bismillah, ikhtiar katanya. Baiklah, apa salahnya kita coba?

Gayung bersambut. Suamiku memang mengenal beliau dan sudah pernah ketemu dengan beliau langsung di sebuah acara, jadi suamiku yang menghubungi beliau. Selang hari berikutnya beliau merespon dan langsung buat janji ketemuan. Tanggal 24 januari 2019, hari kamis selepas sholat isya kita berangkat menuju ke apotek Sultan Agung. Di tempat itulah beliau membuka praktek. Prosedurnya sama seperti promil terdahulu, kita diminta untuk mengambil nomor antrian, menuliskan nama, ditimbang berat badannya, diperiksa tekanan darahnya lalu diminta untuk mengisi data diri karena saya adalah pasien baru.

FYI kita konsultasi ke dokter Anis.
Kira-kira setengah jam menunggu, tiba saatnya giliran kami. Deg-deg an udah pasti. Takut, jujur iya tetep ada rasa takut.

Alhamdulillah beliau sangat welcome dan komunikatif. Karena kami sudah pernah promil juga sebelumnya jadi beliau berusaha menggali informasi sudah sejauh mana perjalanan promil kami.


Singkat cerita, saya diminta melakukan USG. Hal yang paling tidak nyaman saat USG adalah rasa geli. [serius saya paling ga tahan geli]. Menurut pengamatan dokter, rahim saya bersih, tidak ada kista, tidak ada miom. Hanya saja kita tidak tahu apakah salurannya tersumbat atau tidak karena tidak terdeteksi melalui USG dan hanya dapat terlihat hasilnya jika kita melakukan pemeriksaan HSG. [jujur ya, tiap kali mendengar kata HSG tu rasanya langsung ngilu seluruh tubuh. Lebay. Memang. Salah saya sendiri dulu pake acara search HSG di youtube. Lagian siapa yang ga kepo coba?]

Cukup, back to the main topic.
Setelah pemeriksaan USG dan konsultasi panjang lebar, kami putuskan untuk melakukan induksi lagi bulan depan. Jadi untuk saat ini sambil menunggu periode haid bulan berikutnya, kami diberi vitamin E untuk dikonsumsi suami istri. Dokter juga meminta suami saya untuk melakukan cek lab lagi agar mendapatkan hasil terupdate. Beliau menyarankan agar suami saya melakukan cek lab waktu pagi hari dalam keadaan bugar dan puasa [I’m sure you already knew lah] dua hari. Dan cek lab tersebut harus dilakukan sebelum saya haid bulan depan [februari].

Jika bulan ini tidak berhasil terjadi konsepsi, dokter membuatkan resep obat hormonal untuk dikonsumsi bulan depan pada hari kedua haid. Beliau menganjurkan agar obat tersebut dikonsumsi secara ritmis, maksudnya obat tersebut harus diminum pada jam yang sama tiap harinya agar kinerja obat tersebut bisa maksimal.



Rabu, 30 Maret 2016

Penghujung Bulan Maret

Pengalaman Pertama Facial
29 maret 2016
Siang ini aku membuat janji untuk facial. Seumur-umur baru kali ini mau nyobain facial. Oke lah ya kalo ada yang bilang katro, tapi dari dulu aku emang nggak terlalu minat facial meskipun lagi ada duit. Alasan kedua adalah karna banyak temen yang cerita kalo facial itu sakit, nanti dipencet-pencet jerawatnya dan komedonya terus habis itu kulit jadi merah meradang akibat perlakuan dipencet-pencet paksa, dalam hati kubilang “ih ogah banget facial kalo ternyata nyiksa diri gitu!”. Realistis kan?
Alasan ketiga adalah ada temen yang bilang kalo udah sekalinya facial nanti jadi addicted, nah lo? Sapa yang mbayarin? Musti nyiapin anggaran khusus buat facial hingga seterusnya donx?
Alasan terakhir adalah sangat sepele, aku nggak terlalu pede dengan keadaan kulit wajahku yang menurutku cenderung merah dan berminyak. Sebetulnya masalah kulit ini memang faktor genetik yaitu aku memiliki jenis kulit yang serupa dengan bapakku. Makanya aku minder kalo mau facial, takut diapa-apain, takut sakit, takut lama karna harus mendapat perlakuan begini dan begitu.
Emang sih yang namanya ketakutan itu harus dilawan, kalo nggak dicobain ya bakal takut terus selamanya. Alhamdulillah dalam satu kesempatan talkshow, aku dapet voucher facial. [Lumayan lah buat ngganti ongkos bensin]. Sebenernya agak ragu juga sih, mau ngajakin siapa buat nemenin di sana nanti, khawatir juga kalo berangkat sendirian, ntar krik...krik...krik...
Akhirnya setelah tanya sani-sini, aku memberanikan diri telpon ke CS-nya buta reservasi dan nanyain alamat kliniknya. Setelah dijelaskan bla...bla...bla...singkat cerita ketemu deh itu tempat prakteknya.
Kliniknya nggak terlalu besar, bersih, sejuk, harum, dan semua tertata dengan sangat rapi. Uniknya aku merasa betah, homey banget, kenapa?
Karena hampir semua perkakas interiornya berwarna hijau muda yang “wah, aku banget” ni. Emang sih aku nggak se_gila itu mengoleksi segala benda berwarna hijau karna emang nggak mesti selalu dapet, hehe...
Usut punya usut ternyata si empunya klinik emang [maniak] warna hijau jadilah semua dekorasinya berwarna hijau. Udah sejuk udaranya [which is Air Conditioning] sejuk pula mata memandang interiornya, nyaman dilihat.
Berhubung ini klinik muslimah, terapisnya juga nggak main-main [aku yakin banget sih mereka dipilih lewat seleksi ketat]. Terapisku masih muda, kira-kira usianya 25 tahun, penampilannya sangat anggun, berhijab dengan kerudung yang lebar dan berwarna gelap. Orangnya cantik, ramah dan penyabar. Asyik deh diajak ngobrol. Dengan telaten dia njelasin perbedaan jenis facial, bahan yang dipake buat masker dan efeknya buat kulit serta manfaat facial itu sendiri. Berikut terlampir daftar harganya, silakan disimak.
#Pricelist Perawatan di Dokter Muslimah Beauty Clinic#
*Facial Organic*
1. Madu Hitam 50K
2. Normal 55K
3. Vitamin C 65K
4. Rose 75K
5. Orange 75K
6. Green Tea 75K
7. Tea Tree 75K
8. Lemon 75K
9. Aloevera 75K
10. Peach 75K
11. Tomat 75K
12. Blueberry 75K
13. Jasmine 75K
14. Lavender 75K
15. Chamomile 80K
16. Dead Sea 85K
17. Gold 85K
18. Platinum 90K
19. Rumput Laut 100K
20. Kepompong 120K
21. Parafin 120K
22. Jagung 120K
23. Nattural Peeling 80K

*High Tech*
*Meshotherapy Neddle Free*
1. Mesho Lifting 130K
2. Mesho Rejuvenation 130K
3. Mesho Anti Aging 130K
4. Mesho Moisturizing 130K
5. Mesho Brightening 150K
6. Mesho Acne 150K
7. Mesho Flek 150K
8. Mesho Balancing 150K
9. Mesho De Stress 150K
10. Mesho 2 Fase (Flek Berat) 250K

*Microdermabration*
1. Revollving 130K
2. Plus Collagen Gold 150K
3. Micro n Vacum 175K
4. Micro Mesho 200K

*Chemical Peeling*
Up to 200K

*Dermaroller*
1. Peremajaan 200K
2. Acne Scar 250K
3. Scarr Dalam 300K
4. Mesho Derma 450K

*Special High Tech*
1. Cauter up to 100K
2. Radio Frequence 200K

*Facial Detox*
175K(promo)

*Perawatan Bopeng*
Serum 150K

*Face Slim*
Up to 100K

*Neck Slim*
Up to 100K

*Acupuntur Body Slimming*
Up to 150K

*Facial Punggung*
Up to 150K

*Bekam Kecantikan*
75K

*Vitamin C Brightening*
Up to 100K

*Waxing*
Up to 75K

*Massage Body Healthy*
120K

*Lulur Ekstra*
130K

*Body Spa n Sauna*
150K

*Perawatan Vagina*
100K

*Perawatan Payudara*
100K

*Facial Khusus Ikhwan*
1. Non High Tech 120K
2. High Tech 200K

*Kinik Nu Skin dr.Hana (Klinik Khusus)*
1. Eye Treatment Up to 100K
2. Anti Aging – Wrinkle – Lifting 150K
3. Meniruskan Wajah 150K
4. Menghilangkan Gelambir Leher 150K

Taglinenya pun islami banget, “Merawat kulitmu sesuai syari’at, Halal, Berbahan alam (Herbal) & Tidak tabdzir” (DMBC)

*Tabdzir, tabdzir (al – tabdzir) berasal dari akar kata badzara artinya pemborosan

Dokter Muslimah Beauty Clinic
Sumberan No. 297 Ngestiharjo Kasihan Bantul Yogyakarta

Setelah terapisnya selesai njelasin dan nyetempel voucherku, aku diminta ke ruangan sebelah. Selanjutnya aku diminta berbaring, lalu terapis memakaikan headband di kepalaku. Facial dimulai dengan membersihkan muka sambil dipijit-pijit seraya totok wajah [duh, enak banget pokoknya], mana krim dan airnya dingin pula jadi terasa sejuk di wajah dan yang pasti harum.
Selesai dibersihkan terus diseka pake spons dingin [nggak sempet liat sponsnya karna refleks langsung merem].
Selanjutnya digosok pake scrub [agak sedikit sakit sih karena nggosoknya pake ditekan-tekan juga].
Selesai scrubbing terus dibersihkan pake alat [semacam electric handheld massager] gitu [entah kayak apa bentuknya, nggak sempet liat alatnya karna refleks langsung merem] tapi yang pasti geli rasanya muter-muter di wajah.
Selesai dibersihkan terus diuapi uap panas [steam bath] buat membuka pori-pori [entah kayak apa bentuknya, nggak sempet liat alatnya karna refleks langsung merem], sambil wajah diuapi bagian leher dikasih krim terus dimassage sampe bahu [duh, bener-bener enak banget deh].
Setelah kelar semuanya ternyata habis itu perjuangan baru akan dimulai [terus semua tadi itu apa?]. tanpa ba-bi-bu terapisnya langsung aja tuh mencet-mencet hidungku, cuping hidungku, dahiku, daguku dan pipiku pake alat [entah kayak apa bentuknya, nggak sempet liat alatnya karna refleks langsung merem], yang jelas yang aku rasain kayak ditusuk-tusuk jarum berkali-kali, bener-bener sakit banget, perih, bingung deh gimana njelasinnya.
Tadi udah enak-enak dipijit-pijit terus, sekarang giliran nggak enaknya. Malah kata terapisnya jerawat dan komedoku nggak terlalu banyak jadi tekanan pada saat mencet-mencet nggak terlalu dalem. Oh My God, yang katanya nggak banyak gini aja sakit, gimana yang banyak jumlah jerawat dan komedonya dan tekanan pada saat mencet-mencet jerawat dan komedonya dalem-dalem? Haduhhh, nggak bisa mbayangin kayak apa sakitnya, kayak apa lamanya, kayak apa perihnya, kayak apa merahnya coba?
Setelah beberapa saat, usai sudah acara “drama penyiksaan” nya. Habis itu dikasih krim biar nggak terlalu merah meradang. Nah yang terakhir diberi masker chamomile yang wangi banget. Dan tiba-tiba di luar hujan deres banget. Udah dipakein masker [wangi], di luar hujan, di dalem sejuk kena AC, ditinggal pergi terapisnya, mana di situ aku terbaring sendirian pula nggak ada pasien lain, berasa eksklusif banget, jadinya tidur deh aku. Sampe akhirnya setelah beberapa menit kemudian dibangnin sama terapisnya, dikelupas maskernya, terus diseka pake spons dingin. Jadinya cling...taraaa...bersih...halusss... meski di beberapa titik wajah ada yang merah meradang. Puas deh dengan hasilnya. Horeee...aku berhasil facial. Setelah sekian lama terjebak dalam rasa takut dan minder untuk melakukan facial.
Review dari terapisnya adalah wajahku belang [different skin tone] karna sebagian tertutup kerudung sementara sebagian yang lain terkena paparan sinar matahari. Terapisku merekomendasikan agar aku memakai day and night cream untuk menyamaratakan [baca: mencerahkan] warna kulit, meski nggak instant sih katanya, tapi minimal dalam waktu satu bulan nanti sudah bisa terlihat hasilnya. Kuputuskan untuk beli satu saja yang night cream karna aku nggak telaten orangnya.
Total biaya yang kuhabiskan yaitu 120K untuk facial and night cream [udah dipotong voucher itu], mahal kah? Entahlah, karna ini adalah pengalaman facial pertamaku, organic pula, mana bahan maskernya import pula [yang bahan maskernya tradisional baunya kayak jamu]. Yang pasti motivasi utamanya adalah karena ingin memanfaatkan voucher, hehe...modus*
Terima kasih dr.Ferihana udah bagi-bagi voucher facial, terima kasih juga terapisku...

Note: I'm not getting paid for publishing the pricelist, I just want to share the information for all of you